Sabtu, 31 Desember 2016

REFLEKSI AKHIR TAHUN

Oleh : Bung Ichall

Refleksi merupakan unsur yang penting dari suatu realitas karena refleksi menjadi pembelajaran terhadap setiap pengalaman.
Sedikit mengutip sejarah pergerakan kemerdekaan
Sebagai bangsa yang lahir dari rahim perjuangan melawan Kolonialisme 71 Tahun silam beberapa tokoh pemuda seperti Soekarno, Moh. Hatta Dkk berkonsolidasi untuk merumuskan satu tatanan Sosial baru dalam bingkai NKRI tepat pada tahun 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya bebas dari penjajahan  kolonialisme Belanda dan Jepang.
Sebuah bangsa yang didirikan dengan cita-cita bersama yang tertuang dalam dasar negara Indonesia yaitu pancasila.
Pancasila sebagai roh dan semangat yang selalu berapi-api dalam diri setiap insan cinta akan tanah air Indonesia.
Komitmen yang harus dibayar mahal oleh setiap generasi yang lupa akan sejarah dan identitas yang melekat dalam setiap individu "Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah, lupa Sejarah Lupa Identitas".
 momentum tahun baru yang selalu diperingati dari tahun ke tahun Oleh sebagian besar penduduk Indonesia menjadi ritual seremonial belaka tanpa "Menganti PAKAIAN LAMA Dengan PAKAIAN BARU" sementara kita hanya terpaku melihat suasana langit yang dipenuhi hiasan warna warni petasan sebagai tanda bahwa era baru sedang menanti dan tanpa sadar kita telah memasuki Era itu
Era dimana Kompetisi sedang berlangsung, era dimana seseorang rela mengorbankan sesama saudaranya hanya karena secuil materi yang didapatkan, eksploitasi alam besar-besaran karena keserakahan manusia.
Momentum tahun baru adalah capaian dari tahun-tahun sebelumnya sejak 14 Tahun terakhir tercatat bencana alam yang terjadi di Indonesia diperkirakan 2.342 mulai dari Tsunami, Abrasi, Tanah Longsor, Gempa Bumi, Kebakaran Hutan dan Lahan, Puting Beliung Kekeringan, Banjir, dan Letusan Gunung. meningkat dari tahun-tahun sebelumnya hampir dua kali lipat. Bisa jadi ini adalah teguran dan peringatan dari KOSMOS yang murka terhadap segala bentuk pengingkaran manusia terhadap komitmen sebagai makhluk yang memiliki kehendak bebas mengungguli makhluk-makhluk tuhan lainnya seperti yang dijelaskan dalam (QS. 33:72) Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zaldim dan amat bodoh,
Dewasa ini bangsa Indonesia seperti kehilangan roh berketuhanan karena ambisi kekuasaan dan Kapital yang memicu konflik memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.
Semarak TAHUN BARU disongsong dengan aksi yang dilakukan oleh jutaan umat muslim yang kita kenal dengan aksi 212 disebabkan penistaan Agama yang dilakukan oleh pejabat publik, Tapi jangan karena kejadian itu kita gagal dalam Bernegara.
Momentum TAHUN BARU adalah HIJRAH kebangsaan kesempatan dalam membangun kembali kemerosotan tatanan sosial yang lebih baik.
Momentum TAHUN BARU adalah proses pemenuhan kebutuhan hidup yang menurut #Abraham Maslow kebutuhan manusia yang paling atas adalah kebutuhan manusia pada dunia spritual dan religiusitas sedangkan pada tingkatan paling bawah manusia memenuhi kebutuhan biologisnya.
Setelah kebutuhan biologis terpenuhi, secara langsung meningkat pada kebutuhan berikutnya yakni kebutuhan akan kasih sayang, ketentraman, dan rasa aman. Jika kebutuhan itu terpenuhi maka yang diinginkan adalah aktualisasi diri agar dapat berkembang.(baca: Manifesto gerakan intelektual profetik).!!!

Kamis, 24 November 2016

Hikmah Hidup

Lalu hikmah dari Tuhanmu yg mana lagi yg anda abaikan?
Dunia tak sesederhana yg kita pikirkan. Bahagia atau sedih merupakan hal yg mutlak adanya pd hidup kita. Ketika kesedihan menghampiri bermacam tindakan yg kita lakukan. Menyanyi, berteriak, menangis dll yg tujuannya menghilangkan kesedihan tersebut. Frustasi, labil dan semacamnya yg tentunya hadir pd diri kita hingga terkadang lupa bahwa semua yg kita alami merupakan kosekuensi dari pilihan hidup yg kita pilih. Sejenak lupa kalau hidup adalah pilihan yg bahkan tidak memilihpun adalah pilihan. Namun ketika kesedihan menghampiri rupanya terdapat berbagai macam pelajaran yg bisa kita petik. Inilah mungkin yg disebut HIKMAH. Hal ini yg kemudian kita khususnya saya pribadi jarang disadari hingga tidak disyukuri. Hendaknya kita mampu mensyukuri itu. Minimal dijadikan sebagai bahan refleksi. "Manusia adalah makhluk yg mampu merefleksi", kata Paulo Fereire dlm bukunya Pendidikan Kaum Tertindas. Saling membimbing. LD

Minggu, 20 November 2016

Corat-coret Politis NKRI


CORAT-CORET POLITIK NKRI
Oleh : La Dino
Kebenaran selalu akan kita lihat, namun terkadang kacamata yg kita pakai itu yg berbeda. Akhirnya kebenaran itu menjadi multitafsir. Yang seharusnya rasionalitas tapi yg terjadi adalah rasionalisasi. Itu lazim, apalagi saat suatu pandangan kebenaran itu disandingkan dgn kepentingan politik. Maka semakin kaburlah kebenaran itu. Entah menyelamatkan kepentingan atau apalah semacamnya. Ini yg rusak, padahal semua tahu bahwa tak ada yg lebih benar dlm kehidupan ini kecuali perintah agama itu sendiri. Apa yg diperintahkan agama maka itulah yg benar. Sebab beragama adalah mengimani semua perintah agama itu. Jika perintah yg kita dapatkan bertentangan dgn hati nurani kita maka bukan berarti perintah itu salah. Tapi pengetahuan kita belum sampai kesana. Sederhananya itu kebenaran yg masih samar yg hanya menunggu waktu untuk menjadi jelas. Tak terlepas dari itu, dugaan penistaan Agama Islam oleh Ahok terbukti dari pernyataannya bahwa "Masyarakat jangan mau dibohongi pake Surah Al Maidah" masih saja menimbulkan perbedaan pendapat. Ada yg mengatakan bahwa itu bukan bentuk penistaan, padahal sudah jelas dari pernyataannya itu tersirat bahwa Al Maidah merupakan alat pembohongan oleh para ulama. Apakah benar seperti itu? Para ulamakah pembohong atau isi Al Quran yg tidak benar? Menurut hemat saya apa yg disampaikan para ulama adalah sesuai yg tertera dalam Quran tentunya sesuai pula tafsiranya sebagaimana tugas pokok mereka yaitu menyampaikan isi Al Quran. Tidak ada yg salah pada persoalan ini kecuali keblunderan mulut Ahok. Sudah jadi kebiasaanya bahwa setiap kali ada yg tidak disukainya cenderung mengucapkan sumpah serapah yg dibumbui dengan kata-kata kotor seperti "ta*k" dll. Sedangkan pemimpin itu harus mempunyai Uswatun Hasanah, minimalnya mampu menjaga nilai-nilai pancasila. Sedangkan yg dlakukannya adalah mmcederai nilai-nilai pancasila. Mengundang SARA, memecah persatuan. Untuk itu kebenaran yg paling mendekati adalah bahwa Ahok menyatakan itu bukan karena ketidakbiasaan tapi kebiasaan meremehkan sesuatu hingga berujung pd penistaan. 
Sekarang Ahok ditersangkakan, jgn gembira dll, itu bukan brrti Ahok akan ditahan. Inipun bukan berarti pula bahwa hukum kita sudah tegal lurus. Bagi saya, saya mencium kejanggalan dalam ketersangkaan ini. Hal bsa kita lihat dari siapa orang-orang dibelakang Ahok. Tak semudah itu mentersangkakan kawanan singa oleh ayam. Selalu ada nilai politis yg bsa kita petik. Usaha meredamkan demonstrasi kawan-kawan pd tgl 25 Nov nnti, misalnya. Apalagi teriakan-teriakan masyarakat tentang kudeta pemerintahan semakin mmbuat org yg dimaksud harus memilih jalan Tak ada yg tdk mngkin dan bsa jd seperti itulah niat kawanan ini.#ID